Desa Semawot, Bojonegoro - Pasar Temayang masih diselimuti kabut tipis dan udara dingin Bojonegoro yang menusuk kulit ketika jarum jam baru menunjuk angka 02.00 dini hari. Di saat sebagian besar warga Desa Semawot masih terlelap, Yuyul Muji Wahyuni (44 tahun) sudah sibuk menata dagangan di lapak mungilnya yang berukuran 1 x 2 meter. 

Perempuan yang akrab disapa Mbak Yul itu menyiapkan beragam jajanan pasar, mulai dari getuk parut ori, getuk goreng, jongkong, tiwul, lopis, cenil, hingga gantal hitam-hijau. Jajanan tersebut menjadi dagangan yang ia bawa ke pasar setiap dini hari. 

Bagi Mbak Yul, memulai aktivitas sejak sepertiga malam bukanlah beban, melainkan ibadah dan napas kehidupan yang ia jalani demi menghidupi keluarga. Senyuman ramah yang selalu terukir di wajahnya menjadi penawar lelah sekaligus daya tarik magis yang membuat pelanggannya enggan berpaling ke jajanan modern.

"Dari penjual itu kemungkinan raut wajah itu pun juga berpengaruh, penampilan berpengaruh, murah senyum, senyum terus," ujarnya lembut menjelaskan rahasia kesuksesannya memikat pembeli sejak usia muda.

Kesuksesan yang dinikmati Mbak Yul saat ini tidak jatuh begitu saja dari langit, melainkan lahir dari rahim keprihatinan yang mendalam. Menikah di tahun 2004, Mbak Yul muda harus langsung berhadapan dengan badai kesulitan ekonomi yang mencekik.

"Aku dulu ya orangnya biasa saja, kekurangan pangan, ekonomi itu sangat sulit dulu. Dari awal nikah udah sulit, mau makan aja cari nasi itu belum ada," tuturnya perlahan mengenang masa lalunya. 

Segala macam usaha kasar ia jalani demi menyambung hidup, mulai dari membantu suaminya berjualan pentol, es, martabak mi, martabak telur, hingga dirinya sendiri berjualan bunga di area pemakaman untuk warga yang hendak berziarah.

Ujian hidup kian berat ketika suaminya jatuh sakit. Untuk bertahan hidup, Mbak Yul terpaksa menjadi pengasak padi, mencari sisa-sisa bulir padi yang tertinggal di sawah milik orang lain. Di tengah rasa lelah dan cibiran yang meremehkan pekerjaannya, ia memilih menutup telinga dan terus berusaha. 

Peluang baru kemudian datang ketika kawasan hutan di Bojonegoro mengalami perombakan. Saat banyak orang masih ragu untuk menggarap lahan yang terbengkalai, Mbak Yul bersama ibunya membersihkan lahan yang sebelumnya dipenuhi semak belukar untuk ditanami singkong. Lahan tersebut kemudian menghasilkan singkong yang pada awalnya ia jual kepada pembuat getuk.
Dari sana, Mbak Yul melihat peluang lain. Alih-alih menjual singkong sebagai bahan mentah, ia mulai mengolah hasil panennya menjadi getuk agar memperoleh nilai jual lebih tinggi. Pengalaman tersebut menjadi salah satu titik awalnya merintis usaha getuk pada 2012.
Langkah pertama Mbak Yul berjualan langsung di Pasar Temayang nyatanya diwarnai oleh drama pengusiran yang menyakitkan. Sebagai pedagang baru, ia harus rela diusir berkali-kali dan berpindah-pindah lapak dari satu sudut ke sudut lain. 

"Di pasar Temayang tapi pindah sana pindah sini, diusir sana diusir sini," kenangnya. 

Dalam perjalanan berjualannya, Mbak Yul juga pernah menghadapi perselisihan terkait tempat berjualan yang telah lama ia tempati. Ia bahkan harus mempertahankan lapaknya ketika ada pihak yang memintanya untuk mengontrak atau membeli tempat tersebut.

“Iya, sampai rebutan, saya lawan karena di situ saya tempatin tidak satu bulan dua bulan saja. Tiba-tiba diusir suruh kontrak,” tuturnya. Meski sempat berada dalam situasi sulit, Mbak Yul memilih mempertahankan tempatnya hingga akhirnya mengambil keputusan untuk menebus lapak berukuran 1 x 2 meter tersebut dengan harga Rp10 juta secara tunai sekitar delapan hingga sepuluh tahun lalu. Dari tempat sederhana tersebut, ia terus mengembangkan usaha getuknya hingga sampai saat ini cukup untuk menghidupi ia dan keluarganya. 

Cita rasa legendaris Getuk Mba Yul dihasilkan dari kedisiplinan tingkat tinggi yang luar biasa melelahkan di dapur rumahnya. Proses produksinya adalah sebuah siklus harian yang nyaris tanpa henti. Sejak pukul 09.00 pagi, Mbak Yul telah sibuk mengupas singkong segar yang ia beli langsung dari petani lokal di pusat Kota Bojonegoro.

Memasuki siang hari sekitar pukul 12.00, ia mulai membuat adonan jongkong, lopis, cenil, dan kue gantal hitam-hijau. Dari semua jenis menu, jongkong adalah yang paling menantang dan sering kali gagal diproduksi jika komposisi bahan dan air panasnya tidak pas.

"Jongkong, sering gagal. Kadang dari tepungnya atau yang lainnya, adonan terlalu lemas atau juga terkadang dari air yang terlalu panas. Terlalu ribet juga karena pusing sendirian padahal sudah puluhan tahun berjualan," ungkapnya jujur.
Setelah waktu Isya berlalu, ia masih harus membersihkan daun pisang yang menjadi pembungkus getuk satu per satu hingga sekitar pukul 21.30. Waktu istirahatnya pun hanya sebentar sebelum alarm jam dinding kembali membangunkannya pada pukul 23.30 untuk bersiap menggoreng getuk tepat tengah malam. 

Pada masa awal berjualan, Mbak Yul bahkan mampu menggoreng hingga tujuh ember getuk goreng dalam satu kali produksi. Saat itu, setiap potong getuk dijual seharga Rp500. Kini, jumlah produksinya memang tidak sebanyak dulu, hanya sekitar satu ember, tetapi harga jualnya telah meningkat menjadi Rp2.000 per potong. 

Menurut Mbak Yul, penurunan jumlah produksi tersebut bukan persoalan selama harga jual yang lebih tinggi masih memberikan keuntungan. Dalam satu siklus produksi selama enam hari, ia bahkan pernah mengolah bahan baku singkong hingga mencapai satu ton.

Hebatnya, di tengah keterbatasan modal awal, Yuyul Muji Wahyuni pantang bersentuhan dengan utang bank atau sistem bunga yang mengandung riba. Ia memegang teguh prinsip untuk hanya membelanjakan modal sesuai dengan uang tunai yang dimilikinya saat itu. 

"Enggak pernah melakukan riba, kalau ada uang segitu ya beli bahannya cuma sejumlah uang," tegas Mbak Yul membocorkan ketenangan batin yang menjadi fondasi keberkahan usahanya.

Menjalankan usaha kuliner tradisional di era sekarang menuntut Mbak Yul untuk cerdas menghadapi fluktuasi harga bahan baku. Ia menceritakan bahwa saat ini harga singkong dari sektor agro telah merangkak naik hingga Rp4.000 per kilogram. Kenaikan paling mencekik terjadi pada harga tepung tapioka satu karung ukuran 25 kilogram yang melonjak hampir dua kali lipat, dari yang semula Rp175.000 menjadi Rp333.000.

Meskipun biaya produksi membubung tinggi, Mbak Yul pantang menaikkan harga jual produk getuknya secara langsung demi menjaga loyalitas pembeli. Strategi cerdas yang ia terapkan adalah dengan mengurangi sedikit kuantitas atau ukuran fisik dagangannya. 

Reputasi Getuk Mba Yul yang harum di seantero Desa Semawot akhirnya mengundang ketertarikan dari para mahasiswa KKN UPN Veteran Jawa Timur di Desa Semawot. Berdasarkan hasil survei, tim mahasiswa melihat usaha Mbak Yul memiliki potensi ekonomi, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam aspek identitas visual dan promosi digital. 

Sri Anggraeny Puspita Sari, perwakilan tim KKN, mengatakan Mbak Yul sebelumnya belum memiliki identitas visual usaha yang dapat digunakan secara konsisten serta belum aktif memanfaatkan media sosial.
“Kebutuhannya itu kita dilihat dari kunjungan Mbak Yul yang pertama, yang di mana Mbak Yul itu ternyata kurang aktif menggunakan sosial media dan juga Mbak Yul itu belum memiliki banner yang official dan juga logo yang official untuk dipasang di Pasar Temayang,” papar Sari.

Mahasiswa KKN kemudian turun tangan mendesain logo usaha, mencetak banner untuk dipasang di lapak Pasar Temayang, serta membuat konten video promosi. Konten tersebut diunggah di akun media sosial Facebook dan TikTok milik Mbak Yul agar khalayak luas mengetahui bahwa terdapat variasi menu yang dijual Mbak Yul. 

Selain menu yang tersedia setiap hari, beberapa produk seperti klepon dipasarkan melalui sistem pesan terlebih dahulu atau pre-order karena membutuhkan bahan baku kelapa dan ketan yang lebih mahal. 

Ketika diminta untuk menggambarkan keseluruhan esensi dari perjalanan hidupnya yang berliku sejak merintis usaha getuk di tahun 2012 hingga hari ini, Mbak Yul tersenyum sangat lebar. Satu kalimat penutup terlontar dengan penuh rasa bangga dari bibirnya. 

"The best, luar biasa," ucapnya mantap.
Lebih dari satu dekade berjualan, perjalanan Mbak Yul menunjukkan bahwa mempertahankan usaha tidak selalu berarti memperbesar produksi atau mengikuti setiap perubahan tren. Di tengah kenaikan harga bahan baku dan persaingan kuliner yang terus berkembang, ia memilih bertahan dengan cara yang mampu dijangkaunya, mengatur modal, menyesuaikan produksi, menjaga harga, dan tetap mengandalkan pelanggan yang telah mengenal dagangannya.
Getuk bagi Mbak Yul bukan sekadar jajanan berbahan singkong. Dari makanan itulah ia membangun penghidupan keluarga setelah melewati berbagai pekerjaan dan kesulitan ekonomi. Kini, ketika malam berganti pagi di Pasar Temayang, perjalanan itu terus berulang sebuah usaha sederhana yang bertahan bukan karena mengikuti zaman, melainkan karena pemiliknya terus menemukan cara untuk berjalan bersamanya.

 


By Admin
Dibuat tanggal 26-08-2026
0 Dilihat